Jakarta

Kalian #bukanindonJakarta kalau belum pernah melakukan hal-hal di bawah ini.

1. jalan kaki di bawah hujan karena macet luar biasa.

2. naik Metromini yang kenek dan supirnya ngomong bahasa daerah yang tak kalian pahami.

3. menyeberang di bawah jembatan penyeberangan

4. masuk jalur busway.

5. ketakutan karena dibawa ngebut tukang ojek lalu berjanji nggak akan naik ojek lagi (lalu lupa janji itu pada hari selanjutnya)

6. naik Bluebird yang nggak tahu jalan (ditambah lagi nggak punya kembalian)

7. ketemu rombongan yang "baru keluar dari penjara" lalu minta uang di angkutan umum

8. kecopetan. (huhuhu)

9. sakit demam berdarah atau tipes.

10. berburu SALE di mol terdekat (atau jauh)

11. kebanjiran.

12. marahin orang yang nyerobot antrian

...dan masih akan berlanjut...

Trotoar dan Tukang Becak

(download)

Malam ini saya berjalan dalam hujan di sepanjang pecinan, Magelang. Sekilas trotoar baru ini nampak bagus, lebar 4 meter, rata dan cantik.

Sejatinya trotoar ini dibangun dengan menggusur jalur lambat tempat lewat becak dan sepeda. Awalnya sepeda dan becak bisa melaju tenang di jalur selebar 2 meter, dan pejalan kaki di trotoar dua meter.

Setelah seluruhnya jadi trotoar, becak tersingkir. Padahal jalan ini adalah pusat ekonomi paling ramai yang menghubungkan dua tempat terpenting kota: pasar dan alun-alun. Seharusnya becak dan pejalankaki bisa mendapat tempatnya masing-masing. Padahal kondisi itu bisa, tanpa harus saling menyingkirkan.

Entah kenapa becak selalu dibikin terlunta-lunta.  Saya jadi ingat, waktu TK dulu, saya langganan becak untuk mengantar jemput ke sekolah. Tukang becaknya bernama Pak Yayir.

Waktu itu polisi gencar sekali menilang becak. Mereka hanya boleh lewat jalan tertentu yang kadang nggak masuk akal. Jalan memutar, justru cuma boleh lewat jalan mendaki.

Suatu hari, Pak Yayir muncul di depan sekolah saya dengan sebuah.. sepeda. Saya lalu didudukkan di boncengan yang keras, kaki saya menggantung di udara.

Saya masih ingat rasa takut ketika pak Yayir mulai mengayuh sepeda tuanya, sementara saya tak tahu harus berpegangan pada apa. Sampai rumah saya menangis keras-keras, marah pada pak Yayir karena tak menjemput dengan becak yang biasa.

Padahal ternyata pak Yayir baru kena razia, becaknya disita. Dia tetap muncul menjemput saya meski dengan sepeda, meski becaknya entah ditebus dengan apa.

Tahun baru demi tahun baru hingga 23 tahun kemudian, nasib becak dan pengayuhnya tak bertambah baik. Pak Yayir masih menjadi tukang becak. Bedanya, dia kini menderita rabun senja dan hanya bisa bekerja siang hari saja.

Wasiat Online

Kenapa sih orang selalu menganalisa twit/postingan terakhir orang sblm dia meninggal? Gimana kalau jejak terakhirku di dunia maya adalah sesuatu yg konyol? Selamanya dia akan disitu, tak ada yang bisa hapus.

Tiap kalian kangen aku dan buka profilku hal konyol itu muncul dan menjadi kenangan terakhir tentang aku yang sebenarnya belum tentu mewakili diriku. Aku yang terbentuk dari pengalaman dan pengambilan keputusan selama 26 tahun terakhir --- diwakili satu postingan blog atau mungkin umpatan 100 karakter di twitter.

Hmm..mungkin harus bikin bikin wasiat-online berisi password semua akun sosial media dan postingan pamitan yang harus diposting disana, diberikan pada orang terpercaya. Tapi..kenapa mati aja mikirin pencitraan ya? Mending mengkhawatirkan kemana jiwa kita pergi.

Tempat Serbaguna Untuk (Hampir) Semua

Percakapan sehari-hari di kantor gupernuran Kota Batavintje.

Dinas Ekonomi: Pabos, kami butuh lahan untuk pedagang kakilima.
Pak Bos: Taro di trotoar aja dulu.

Dinas Pertamanan: Pak Bos, kami butuh lahan untuk penghijauan.
Pak Bos: Tuh, tanam pohon di trotoar. Kalo nggak bisa digali, pake pot yang gede-gede.

Tukang listrik: Pak, kami butuh tempat buat naro tiang listrik dan kabel-kabel.
Pak Bos: Tiangnya di trotoar aja, kabelnya ya gali trotoar tiap sebulan sekali.

Polisi: Pak, kami butuh tempat buat pos polisi.
Pak Bos: Silakan pak, trotoar masih luas.

Gelandangan: Pak, tolong, kami butuh tempat berlindung
Pak Bos: Bobok di trotoar aja napa sih

Pengendara motor: Kami butuh jalan pak, macet dimana-mana
Pak Bos: Bego deh, naik trotoar kan bisa.

Tukang ojek: Pak, kami butuh tempat buat pangkalan.
Pak Bos: Kayak nggak biasa mangkal di trotoar aje lu.

Remaja emo: Pak, kami butuh ruang terbuka buat bergaul dan bersosialisasi.
Pak Bos: Ntu, nongkrong di trotoar aja sambil liatin cewek-cewek

Tukang sampah: Pak, ini sampah mau ditaro dimana?
Pak Bos: Aduh menuh-menuhin aja. Trotoar noh.

Dinas transportasi: Pak, tangga jembatan penyebrangan taro dimana nih, kalau di trotoar jadi penuh nggak bisa buat jalan.
Pak Bos: Kalo gitu pasang di rumahmu!

Pejalan kaki: Pak... trotoar kami mana?
Gubernur: UDAH PENUH!

Hantu di Air Asia

Mudik pakai Air Asia, waktu di pesawat nggak dapat tempat duduk. Seorang bapak-bapak baik menawarkan saya duduk di tempat anaknya, karena anaknya dia pangku. Waktu protes lewat web beberapa hari sesudahnya, tenyata nama saya malah nggak ada di manifes penumpang yang berangkat. Saya hantu.

Adapun hasil yang kami dapatkan tetap berdasarkan bukti di system kami yang tertera bahwa atas nama Ibu Famega Syavira dengan kode booking C7DCQW, terdaftar sebagai penumpang yang tidak ikut dalam penerbangan QZ7344/28 Agustus 2011 sektor Jakarta - Yogyakarta, atau status No show.

Kami juga telah melakukan investigasi terhadap kru pesawat yang bertugas pada penerbangan tersebut, akan tetapi hasil laporan yang kami dapatkan juga nihil, bahwa tidak ada keterangan yang menyebutkan bahwa telah terjadi insiden double seatting seperti yang ibu maksudkan, maupun keterangan yang menyebutkan bahwa Boarding pass ibu telah di ambil oleh kru penerbangan Air Asia.

Sesuai dengan pembicaraan di telephone sebelumnya, kami sangat berharap agar sekiranya ibu dapat memberikan kepada kami bukti-bukti tercatat lainnya yang bisa menguatkan pernyataan perihal terjadinya insiden yang ibu alami, sehingga kami dapat melanjutkan proses investigasi kami.


Nah, memang nggak punya bukti sih bahwa aku udah terbang pake Air Asia saat itu. Secara hukum posisiku lemah. Cuma berargumen bahwa saat itu H-2 Lebaran, tak mungkin mampu beli tiket untuk penerbangan lain sih (hahaha). Masa buktinya cuma foto buka puasa di Alun-Alun Kidul sih? :))

Tapi setidaknya mereka menanggapi keluhanku dengan serius, sempat dua kali follow up dengan telepon juga. Saya merasa dilayani, dan nggak akan kapok pake Air Asia lagi. (ya jelas nggak kapok, udah beli 4 tiket lagi kok hehehe). Ingat untuk selalu bikin screenshot tiap ada masalah!

Sayangnya mereka ngirim e-mail itu dengan auto generated response. Gimana mbalasnya ya? 

Hujan Dalam Komposisi

"What do you discern from the sound of the rain, the steady slapping of wet bougainvillea leaves against the window pane? What do you discern from the smell of the earth, from the sound of water running through the gutter?" He imagines the mysterious bond between the earth and the rain; he imagines a secret in the steady slapping of wet leaves.

This is pieces from Sapardi, Rain In Composition. The poem is still go on and on, but i will stopped it there. For sometime we only see what we want to see. And i don't expect the answer of  "There is none. Nothing except you shadow behind the door dreaming."

Bertahan Hidup dari Serangan Zombie di Jakarta

Bersiap menghadapi virus (Resident Evil) zombie, atau ada bencana biologis, sangat penting. Zombie bisa muncul kapan saja, menyebar dengan cepat tanpa kita pernah duga.

Beberapa film bisa jadi referensi, tapi kebanyakan film dibuat di negara maju dengan kondisi sangat  berbeda dari lingkungan tempat tinggal kita di ibukota negara dunia ketiga. Berikut ini tips untuk bertahan hidup dan hal yang harus dilakukan:

1. Jangan ikut arus
Bayangkan suatu hari Jumat, hujan, dengan jalanan yang penuh dengan galian. Jakarta bahkan diperkirakan akan macet hingga tahun depan. Melarikan diri lewat jalan raya artinya macet tanpa bisa bergerak. Saat serbuan zombie dimulai, mereka yang terjebak kemacetan akan menjadi mangsa empuk para zombie. 

2. Tak ada koordinasi terpusat
Staf Khusus Presiden bidang Bencana Andi Arief pernah meramalkan gempa dan tsunami akan segera terjadi di Jakarta. Meski meyakini hal itu, dia tak melakukan tindakan apapun untuk mengungsikan warga atau mencegah kerusakan. Jadi jika bencana zombie terjadi, jangan harap ada tempat pengungsian atau tindakan khusus dari pemerintah.

3. Tentukan ke mana akan menuju
Tidak ada Center for Disease Control seperti di serial The Walking Dead yang bisa jadi tujuan. Hal ini berkaitan dengan tak ada koordinasi terpusat (lihat nomor 3). Badan Nasional Penanggulangan Bencana sepertinya belum bisa menangani bahaya senjata biologis (duh, webnya aja lamban banget). Terus bergerak sambil merencanakan tujuan. 

4. Pasokan makanan
Sebagian besar bahan makanan di Indonesia berasal dari impor, mulai dari beras, garam sampai terong dari Thailand. Tanpa pasokan dari luar, ketersediaan makanan akan sangat terbatas. Jika sudah menemukan tempat persembunyian untuk jangka waktu agak lama, usahakan menanam sayuran sendiri.

5. Riset
Anggaran penelitian kita cuma 0,3 persen dari APBN. Ilmuwan dibayar rendah, kemajuan riset masih terbelakang. Lupakan harapan bahwa ilmuwan akan menemukan penawar atau obat untuk mengatasi kegilaan ini. Bertahanlah saja sambil berharap para zombie akan mati karena tak dapat menemukan sumber makanan.(28 Days Later, 28 Weeks Later)

6. Tergantung dengan bahan bakar fosil. 
95 persen energi dipenuhi dari bahan bakar fosil, yang akan makin terbatas jumlahnya dalam kekacauan. Hematlah energi, terutama jika bepergian dengan kendaraan.

7. Waspadai aksi kriminalitas
Kompas 31 Oktober membahas aksi kriminalitas di Jabodetabek yang meningkat drastis pada 2011 . Saat serangan zombie terjadi, kondisi akan menjadi sangat kacau, dan bisa dimanfaatkan oleh orang-orang jahat. Jangan mudah percaya dan menggantungkan diri pada orang asing.

Siapkan ransel darurat, senjata, dan ingat bahwa kardio sangat penting (Zombieland). Jangan panik dan selamat berjuang!