Menjaga Museum, Menjaga Sejarah

432322_10150653536219791_53660

Hal pertama yang dikatakan Syahrial Djalil waktu menemui kami di gazebo tengah kebunnya adalah: "Pokoknya saya nggak rela kalau museum ini jatuh ke tangan pemerintah," kata Syahrial yang berusia 71 tahun itu.

Syahrial adalah pemilik Museum di Tengah Kebun, museum pribadi tercantik yang saya pernah lihat. Kecantikan museum ini bukan cuma terlihat dari koleksinya, tapi juga taman luas yang mengelilinginya.

Museum itu juga merupakan rumah pribadi Syahrial sendiri. Semua bendanya masih bisa dipakai, dengan semua barang berlabel antara abad 19 hingga sebelum masehi. Seluruh isi rumah ini adalah benda kuno. Pintunya dari penjara di Bukit Duri, batu batanya dari gedung belanda yang dirobohkan, tunggul pohon berasal dari fosil pohon, bahkan sofa yang nampak modern sebenarnya sofa abad 18 yang diberi jok baru. 

Hampir semua peradaban besar dunia punya wakil di museum Syahrial. Aneka patung Buddha, arca, benda makan, topeng mumi, pedang Ottoman hingga peralatan makan Napoleon. 4000 koleksinya dikumpulkan sejak 30 tahun yang lalu, sebagian besar dibeli dari rumah lelang semacam Christie. (favoritku? aneka wajah Buddha dari puluhan patung Buddha!)

Lajang, tanpa anak dan istri, wajar kalau Syahrial khawatir mengenai nasib museum jika kelak dia kelak meninggal. Museum itu berisi koleksi yang tak ternilai harganya (ini sungguh bukan kiasan, bukan).

Lalu apa yang akan dia lakukan? Syahrial menyiapkannya dengan baik. Dia membentuk yayasan untuk memastikan museum tidak jatuh ke tangan pemerintah, seperti yang sangat dia takutkan. Yayasan itu dia serahkan pada sekelompok orang yang dia percayai. Nama-nama terkenal ada di dalamnya (misalnya, Faisal Basri, Syafii Maarif). 

Syahrial juga memastikan bahwa museum tetap terawat dan bisa diakses dengan gratis. Memelihara benda-benda kuno dan taman super cantik itu tentu butuh biaya besar sekali. "Butuh Rp 50 juta sebulan," kata dia. Belum lagi Pajak Bumi dan Bangunan, sekitar Rp 40 juta setahun.

Untuk membayar semua biaya itu, Syahrial sudah menyediakan uang di rekeningnya di sebuah bank luar negeri. "Saya sudah atur agar museum tetap bisa buka hingga 15 tahun setalah saya tak ada, bahkan jika yayasan tak melakukan apapun," kata dia.

Rumah dan seluruh isinya dia hibahkan, agar lebih banyak orang bisa mengakses koleksi museum dan belajar dari sejarah umat manusia. Untuk dirinya, dia membeli sebuah apartemen yang luasnya sekitar 80 meter persegi. "Padahal kamar mandi saya di rumah ini saja luasnya 110 meter," kata dia sambil tertawa.

Sore itu kami mengobrol berjam-jam di gazebo rumahnya yang sempurna, dan saya merasa sedih mengetahui betapa langkanya kolektor semacam Syahrial. Sendirian, dia menjaga museumnya bahkan sampai bertahun-tahun setelah dia mati. (dan sedih membayangkan betapa banyaknya benda kuno yang tersimpan di rumah para kolektor tanpa bisa dilihat oleh publik. Tapi itu tentu jauh lebih baik daripada yang dihancurkan, seperti Buddha Bamiyan di Afghanistan, atau beberapa kompleks candi di Indonesia).

Nah, kamu juga harus ke sana dan bertemu Syahrial sendiri. Harus janjian ya! http://museumditengahkebun.org

Alasan-alasan

Suatu hari Minggu yang cerah:

Bungky: Astaga banyak banget sarang laba-laba di kamarmu!
Cya: Oh itu memang dipelihara. Kenalkan, yang di kanan itu Charles, yang kiri Elizabeth. Bungky: *ngambil sapu dan mbersihin sarang laba-laba di eternit*
Cya: Cepat lari Charles, Elizabeth!

*terus nonton Fringe*

Bungky: Kresek sampahnya dibuang dong!
Cya: Tapi itu memang buat ngasih makan koloni semut.
Bungky: *semprot koloni semut pake baygon*

Famega Syavira Putri | http://cyapila.com | @cyapila

Jakarta

Kalian #bukanindonJakarta kalau belum pernah melakukan hal-hal di bawah ini.

1. jalan kaki di bawah hujan karena macet luar biasa.

2. naik Metromini yang kenek dan supirnya ngomong bahasa daerah yang tak kalian pahami.

3. menyeberang di bawah jembatan penyeberangan

4. masuk jalur busway.

5. ketakutan karena dibawa ngebut tukang ojek lalu berjanji nggak akan naik ojek lagi (lalu lupa janji itu pada hari selanjutnya)

6. naik Bluebird yang nggak tahu jalan (ditambah lagi nggak punya kembalian)

7. ketemu rombongan yang "baru keluar dari penjara" lalu minta uang di angkutan umum

8. kecopetan. (huhuhu)

9. sakit demam berdarah atau tipes.

10. berburu SALE di mol terdekat (atau jauh)

11. kebanjiran.

12. marahin orang yang nyerobot antrian

...dan masih akan berlanjut...

Trotoar dan Tukang Becak

(download)

Malam ini saya berjalan dalam hujan di sepanjang pecinan, Magelang. Sekilas trotoar baru ini nampak bagus, lebar 4 meter, rata dan cantik.

Sejatinya trotoar ini dibangun dengan menggusur jalur lambat tempat lewat becak dan sepeda. Awalnya sepeda dan becak bisa melaju tenang di jalur selebar 2 meter, dan pejalan kaki di trotoar dua meter.

Setelah seluruhnya jadi trotoar, becak tersingkir. Padahal jalan ini adalah pusat ekonomi paling ramai yang menghubungkan dua tempat terpenting kota: pasar dan alun-alun. Seharusnya becak dan pejalankaki bisa mendapat tempatnya masing-masing. Padahal kondisi itu bisa, tanpa harus saling menyingkirkan.

Entah kenapa becak selalu dibikin terlunta-lunta.  Saya jadi ingat, waktu TK dulu, saya langganan becak untuk mengantar jemput ke sekolah. Tukang becaknya bernama Pak Yayir.

Waktu itu polisi gencar sekali menilang becak. Mereka hanya boleh lewat jalan tertentu yang kadang nggak masuk akal. Jalan memutar, justru cuma boleh lewat jalan mendaki.

Suatu hari, Pak Yayir muncul di depan sekolah saya dengan sebuah.. sepeda. Saya lalu didudukkan di boncengan yang keras, kaki saya menggantung di udara.

Saya masih ingat rasa takut ketika pak Yayir mulai mengayuh sepeda tuanya, sementara saya tak tahu harus berpegangan pada apa. Sampai rumah saya menangis keras-keras, marah pada pak Yayir karena tak menjemput dengan becak yang biasa.

Padahal ternyata pak Yayir baru kena razia, becaknya disita. Dia tetap muncul menjemput saya meski dengan sepeda, meski becaknya entah ditebus dengan apa.

Tahun baru demi tahun baru hingga 23 tahun kemudian, nasib becak dan pengayuhnya tak bertambah baik. Pak Yayir masih menjadi tukang becak. Bedanya, dia kini menderita rabun senja dan hanya bisa bekerja siang hari saja.

Wasiat Online

Kenapa sih orang selalu menganalisa twit/postingan terakhir orang sblm dia meninggal? Gimana kalau jejak terakhirku di dunia maya adalah sesuatu yg konyol? Selamanya dia akan disitu, tak ada yang bisa hapus.

Tiap kalian kangen aku dan buka profilku hal konyol itu muncul dan menjadi kenangan terakhir tentang aku yang sebenarnya belum tentu mewakili diriku. Aku yang terbentuk dari pengalaman dan pengambilan keputusan selama 26 tahun terakhir --- diwakili satu postingan blog atau mungkin umpatan 100 karakter di twitter.

Hmm..mungkin harus bikin bikin wasiat-online berisi password semua akun sosial media dan postingan pamitan yang harus diposting disana, diberikan pada orang terpercaya. Tapi..kenapa mati aja mikirin pencitraan ya? Mending mengkhawatirkan kemana jiwa kita pergi.

Tempat Serbaguna Untuk (Hampir) Semua

Percakapan sehari-hari di kantor gupernuran Kota Batavintje.

Dinas Ekonomi: Pabos, kami butuh lahan untuk pedagang kakilima.
Pak Bos: Taro di trotoar aja dulu.

Dinas Pertamanan: Pak Bos, kami butuh lahan untuk penghijauan.
Pak Bos: Tuh, tanam pohon di trotoar. Kalo nggak bisa digali, pake pot yang gede-gede.

Tukang listrik: Pak, kami butuh tempat buat naro tiang listrik dan kabel-kabel.
Pak Bos: Tiangnya di trotoar aja, kabelnya ya gali trotoar tiap sebulan sekali.

Polisi: Pak, kami butuh tempat buat pos polisi.
Pak Bos: Silakan pak, trotoar masih luas.

Gelandangan: Pak, tolong, kami butuh tempat berlindung
Pak Bos: Bobok di trotoar aja napa sih

Pengendara motor: Kami butuh jalan pak, macet dimana-mana
Pak Bos: Bego deh, naik trotoar kan bisa.

Tukang ojek: Pak, kami butuh tempat buat pangkalan.
Pak Bos: Kayak nggak biasa mangkal di trotoar aje lu.

Remaja emo: Pak, kami butuh ruang terbuka buat bergaul dan bersosialisasi.
Pak Bos: Ntu, nongkrong di trotoar aja sambil liatin cewek-cewek

Tukang sampah: Pak, ini sampah mau ditaro dimana?
Pak Bos: Aduh menuh-menuhin aja. Trotoar noh.

Dinas transportasi: Pak, tangga jembatan penyebrangan taro dimana nih, kalau di trotoar jadi penuh nggak bisa buat jalan.
Pak Bos: Kalo gitu pasang di rumahmu!

Pejalan kaki: Pak... trotoar kami mana?
Gubernur: UDAH PENUH!

Hantu di Air Asia

Mudik pakai Air Asia, waktu di pesawat nggak dapat tempat duduk. Seorang bapak-bapak baik menawarkan saya duduk di tempat anaknya, karena anaknya dia pangku. Waktu protes lewat web beberapa hari sesudahnya, tenyata nama saya malah nggak ada di manifes penumpang yang berangkat. Saya hantu.

Adapun hasil yang kami dapatkan tetap berdasarkan bukti di system kami yang tertera bahwa atas nama Ibu Famega Syavira dengan kode booking C7DCQW, terdaftar sebagai penumpang yang tidak ikut dalam penerbangan QZ7344/28 Agustus 2011 sektor Jakarta - Yogyakarta, atau status No show.

Kami juga telah melakukan investigasi terhadap kru pesawat yang bertugas pada penerbangan tersebut, akan tetapi hasil laporan yang kami dapatkan juga nihil, bahwa tidak ada keterangan yang menyebutkan bahwa telah terjadi insiden double seatting seperti yang ibu maksudkan, maupun keterangan yang menyebutkan bahwa Boarding pass ibu telah di ambil oleh kru penerbangan Air Asia.

Sesuai dengan pembicaraan di telephone sebelumnya, kami sangat berharap agar sekiranya ibu dapat memberikan kepada kami bukti-bukti tercatat lainnya yang bisa menguatkan pernyataan perihal terjadinya insiden yang ibu alami, sehingga kami dapat melanjutkan proses investigasi kami.


Nah, memang nggak punya bukti sih bahwa aku udah terbang pake Air Asia saat itu. Secara hukum posisiku lemah. Cuma berargumen bahwa saat itu H-2 Lebaran, tak mungkin mampu beli tiket untuk penerbangan lain sih (hahaha). Masa buktinya cuma foto buka puasa di Alun-Alun Kidul sih? :))

Tapi setidaknya mereka menanggapi keluhanku dengan serius, sempat dua kali follow up dengan telepon juga. Saya merasa dilayani, dan nggak akan kapok pake Air Asia lagi. (ya jelas nggak kapok, udah beli 4 tiket lagi kok hehehe). Ingat untuk selalu bikin screenshot tiap ada masalah!

Sayangnya mereka ngirim e-mail itu dengan auto generated response. Gimana mbalasnya ya? 

Hujan Dalam Komposisi

"What do you discern from the sound of the rain, the steady slapping of wet bougainvillea leaves against the window pane? What do you discern from the smell of the earth, from the sound of water running through the gutter?" He imagines the mysterious bond between the earth and the rain; he imagines a secret in the steady slapping of wet leaves.

This is pieces from Sapardi, Rain In Composition. The poem is still go on and on, but i will stopped it there. For sometime we only see what we want to see. And i don't expect the answer of  "There is none. Nothing except you shadow behind the door dreaming."